Ternyata, Kehilangan Orang Yang Dicintai Memiliki Efek Pada Kesehatan Jantung

Saat kita kehilangan seseorang yang sangat kita cintai tentu kita merasakan sakit atau yang biasa di sebut dengan patah hati, namun tahukah kamu, bahwa patah hati bukan hanya berpengaruh pada perasaan tapi juga terhadap kesehatan jantung.

Patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai, melalui kematian, perceraian, putus hubungan, terpisah secara fisik atau penolakan cinta.

patah hati1

Patah hati biasanya dikaitkan dengan kehilangan seorang anggota keluarga atau pasangan hidup, meski kehilangan orang tua, anak, hewan peliharaan, orang yang dicintai atau teman dekat bisa “mematahkan hati seseorang” dan sering dialami ketika sedih dan merasa kehilangan.

Frasa ini mengarah pada sakit fisik yang dirasakan seseorang di dada sebagai dampak kehilangan tersebut, tetapi ada pula perpanjangannya yang meliputi trauma emosional ketika perasaan tersebut tidak dialami sebagai wujud sakit somatik.

Meskipun “patah hati” biasanya tidak memberi kerusakan fisik apapun pada jantung, ada sebuah kondisi bernama “sindrom patah hati” atau Takotsubo cardiomyopathy, yaitu ketika sebuah insiden traumatik mendorong otak untuk menyalurkan zat-zat kimia ke jaringan jantung yang melemah.

Sindrom patah hati atau Takotsubo cardiomyopathy pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti yang berasal dari Jepang sekitar lebih dari 20 tahun lalu. Sindrom ini dapat mempengaruhi kemampuan jantung untuk memompa dengan normal. Meskipun begitu, sindrom ini hanya bersifat sementara.

patah hati2

Gejala-gejala sindrom patah hati dapat disebabkan oleh reaksi jantung terhadap gelombang hormon stres. Pada sindrom ini, bagian dari jantung akan membesar dan tidak dapat memompa dengan baik, sementara bagian jantung lainnya berfungsi secara normal ataupun memiliki kontraksi lebih kuat. Gejala sindrom patah hati dapat diobati, dan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar satu minggu.

Menurut penelitian terbaru mengungkapkan bahwa detak jantung cenderung jadi tak teratur ketika seseorang ditinggal pergi oleh pasangan hidupnya. Terutama jika pasangan hidupnya meninggal di usia yang masih muda atau meninggal secara mendadak.

Para ilmuwan asal Denmark menemukan bahwa 30 hari setelah kematian pasangan, orang yang ditinggalkan mempunyai kecenderungan mengalami detak jantung tak teratur sebesar 41 persen. Saat kita kehilangan seseorang, detak jantung kita menjadi tidak terartur, dan ini dapat menyebabkan stroke dan penyakit jantung.

Simon Graff, ilmuwan dan ketua penelitian dari Departemen Kesehatan Masyarakat Aarhus University Denmark mengatakan, “Stres sudah lama dikaitkan dengan penyakit aritmia di jantung, dan stres akut yang dialami karena kehilangan pasangan merupakan salah satu penyebab terbesar dari stres secara psikologis yang pernah dialami.”

patah hati3

Kondisi ini dikenal dengan nama fibrilasi atrium (AF), AF memang dapat meningkatkan kemungkinan stroke maupun gagal jantung. Mereka yang menderita AF biasanya merasakan jantung berdebar, napas pendek, dan rasa tak nyaman di dada.

Fibrilasi Atrium atau yang biasa disingkat AF, merupakan suatu kondisi tubuh di mana ritme atau detak jantung menjadi tak normal. Hal tersebut merupakan jenis aritmia paling umum.

Peneliti di Denmark menggunakan data populasi yang dikumpulkan antara 1995 dan 2014 untuk mencari sebuah pola. Dari data itu, 88.612 orang didiagnosis baru mengalami atrial fibrilasi dan 886.120 dalam kondisi sehat.

“Risiko memiliki detak jantung tak teratur untuk pertama kalinya 41 persen lebih besar terjadi pada mereka yang berduka dan itu termasuk orang yang kehilangan pasangan,” tulis hasil studi pimpinan Simon Graff dari Universitas Aarhus.

Berdasarkan studi yang dipublikasi di jurnal Open Heart tersebut, diketahui bahwa orang yang tinggal maupun tidak berada di satu rumah dengan pasangannya, dapat mengalami kesempatan yang sama untuk menderita AF setelah kematian orang yang disayangi itu.

Orang-orang yang lebih muda, berusia di bawah 60 tahun, dua kali lipat berisiko terkena masalah itu, sedangkan mereka yang pasangannya meninggal mendadak berisiko 57 persen.

patah hati4

Para peneliti menyatakan bahwa orang-orang yang kehilangan pasangan mereka tak hanya berisiko untuk mengalami irama jantung yang abnormal, tapi juga kondisi lain yang mungkin berkontribusi terhadap gangguan jantung.

Risiko terbesar dialami delapan sampai 14 hari setelah kematian pasangan, setelah itu secara bertahap akan mereda. Tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari sebab dan akibat ini, karena penelitian ini hanya observasi yang melihat adanya korelasi dalam data. Kehilangan pasangan dianggap sebagai salah satu kejadian hidup yang paling stres.

Itu bisa memicu gejala penyakit, seperti depresi, membuat orang kehilangan nafsu makan dan tidak bisa tidur, minum alkohol terlalu banyak dan berhenti berolahraga, semuanya dapat merusak kesehatan.

Dr Suzanne Steinbaum, direktur Women’s Heart Health di Lenox Hill Hospital di New York City, mengatakan bahwa penelitian menunjukkan mengapa orang yang pasangannya pernah mengalami kematian yang tragis membutuhkan dukungan dari teman-teman dan keluarga.

Jadi, sangat penting bagi kamu untuk mendapatkan dan memberikan dukungan ketika ada orang kehilangan pasangan yang dicintai. Selain membantu untuk perlahan mengikhlaskan juga membuat kondisi jantung tak mengalami gangguan.

Nah, Semoga setelah kamu membaca artikel diatas kamu bisa mengambil langkah dengan tidak berlarut-larut dalam kesedihan atas kehilangan seseorang yang dicintai. Sebab hal itu juga akan melukai jantung dan bahkan berujung dengan kematian.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>